TEORI BELAJAR DAN
PEMBELAJARAN NEUROSCIENCE
OLEH: EVA
HARYANI_1213032027 (GANJIL)
Teori belajar adalah
upaya untuk menggambarkan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita
memahami proses pembelajaran. Pada
umumnya ada beberapa teori belajar dan pembelajaran yang sering digunakan, yaitu
teori Teori Konstruktivis, Teori
Neuroscience, Teori
Multiple Intelligence, Teori Ki Hajar Dewantara , Teori kultural Vigotsky, Teori Piaget,
Taksonomi Bloom, 5 Pilar Pendidikan. Namun, pada kesempatan kali ini, yang akan dibahas
terlebih dahulu adalah Teori Neuroscience.
Proses pembelajaran sangat
terkait dengan kerja otak kanan dan kiri. Dikutip dari sebuah blog, bahwa pada Oktober 2004, sekelompok ahli yang menekuni riset-riset otak berkumpul
disebuah pegunungan, didharmasala India. Pesertanya bukan orang sembarangan, ahli otak kelas dunia berkumpul membicarakan lihwal tentang otak. Pertemuan tersebut membicarakan topik perihal neuroplastisitas, yaitu kemampuan sel-sel saraf mengubah diri. Ini adalah soal kapasitas otak
untuk berubah, baik karena pengaruh sengaja dari luar maupun karena perubahan
metabolisme dalam otak. Menurut Balai lama, yang kemudian disetujui oleh para
periset yang meneliti soal itu, otak bukanlah elemen tubuh yang statis, yang
sudah jadi sehingga tidak bias berubah. Persoalannya kemudian adalah apa yang
dapat dilakukan untuk dapat mengubah mesin super canggih ini. Perubahan otak tidak mungkin terjadi tanpa intervensi serius, sistematis,
dan terutama latihan-latihan mental. Potensi otak untuk berubah sangat tak
terbatas, bahkan boleh dikatakan tidak terukur. Pada saat yang hampir
bersamaan, di laboratorium Biomolekul Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta,
pernah dilakukan penelitian dalam bidang neuronatomi (Neurosains).
Pembelajaran berbasis kemampuan otak (neuroscience)
adalah pembelajaran yang diselaraskan dengan cara otak yang didesain alamiah
untuk belajar (apa saja yang baik bagi otak). Setelah kita mempelajari teori
ini, diharapkan untuk dapat diterapkan dalam proses belajar dan pembelajaran.
Bagian-bagian Otak dan Fungsinya:
1. Cerebrum (Otak Besar)
Cerebrum adalah bagian terbesar
dari otak manusia yang juga disebut dengan nama Cerebral Cortex, Forebrain atau
Otak Depan. Cerebrum merupakan bagian otak yang membedakan manusia dengan
binatang. Cerebrum membuat manusia memiliki kemampuan berpikir, analisa,
logika, bahasa, kesadaran, perencanaan, memori dan kemampuan visual. Kecerdasan
intelektual atau IQ Anda juga ditentukan oleh kualitas bagian ini. Cerebrum
(otak besar) juga bisa dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanan dan
belahan otak kiri. Kedua belahan itu terhubung oleh kabel-kabel saraf di bagian
bawahnya. Secara umum, belahan otak kanan mengontrol sisi kiri tubuh, dan
belahan otak kiri mengontrol sisi kanan tubuh. Otak kanan terlibat dalam
kreativitas dan kemampuan artistik. Sedangkan otak kiri untuk logika dan
berpikir rasional.
2. Cerebellum (Otak Kecil)
Otak Kecil atau Cerebellum
terletak di bagian belakang kepala, dekat dengan ujung leher bagian atas.
Cerebellum mengontrol banyak fungsi otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap
atau posisi tubuh, mengkontrol keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh.
Otak Kecil juga menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang
dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat menulis,
gerakan mengunci pintu dan sebagainya. Jika terjadi cedera pada otak kecil,
dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan
menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan
makanan ke dalam mulutnya atau tidak mampu mengancingkan baju.
3. Brainstem (Batang Otak)
Batang otak (brainstem) berada
di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala bagian dasar dan memanjang sampai
ke tulang punggung atau sumsum tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi
dasar manusia termasuk pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh,
mengatur proses pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar manusia yaitu
fight or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya.
4. Limbic System (Sistem Limbik)
Sistem limbik terletak di bagian
tengah otak, membungkus batang otak ibarat kerah baju. Komponen limbik antara
lain hipotalamus, thalamus, amigdala, hipocampus dan korteks limbik. Sistem
limbik berfungsi menghasilkan perasaan, mengatur produksi hormon, memelihara
homeostasis, rasa haus, rasa lapar, dorongan seks, pusat rasa senang,
metabolisme dan juga memori jangka panjang. Bagian terpenting dari Limbik
Sistem adalah Hipotalamus yang salah satu fungsinya adalah bagian memutuskan
mana yang perlu mendapat perhatian dan mana yang tidak. Sistem limbik menyimpan
banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera. Dialah yang lazim disebut
sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran. Carl
Gustav Jung menyebutnya sebagai “Alam Bawah Sadar” atau ketidaksadaran
kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik seperti menolong orang dan
perilaku tulus lainnya.
Penggunaan Fungsi Otak
dan Gaya Pemikiran yang distimulasikan:
|
Kiri
|
Kanan
|
|
Logis
|
Konseptual
|
|
Analistis
|
Idialitas
|
|
Realitas
|
Visionari
|
|
Faktual
|
Emosional
|
|
Prosedural
|
Humanistis
|
|
Praktis
|
Intuitif
|
|
Organisatoris
|
Spiritual
|
Sebagai suatu teori pembelajaran berbasis kemampuan
otak (Neuroscience), tentu saja memiliki kelebihan dan kelemahan.
Kelebihan
Neuroscience:
a. Teori ini
mendukung siswa mencapai apa yang diinginkan sesuai pada kemampuan kerja
otaknya.
b. Guru
sebagai penggubah keberhasilan siswa.
c. Memberikan
suatu pemikiran baru tentang bagaimana otak manusia bekerja.
d. Memperhatikan
kerja alamiah otak si pebelajar dalam proses pembelajaran.
e. Menciptakan
iklim pembelajaran dimana pebelajar dihormati dan didukung.
f. Menghindari
terjadinya pemforsiran terhadap kerja otak.
Kelemahan Neuroscience:
a. Sebagian besar pendidikan di Indonesia lebih
menekankan pada aspek kognitif atau intelektualnya saja dan yang berkembang
hanya otak belahan kiri
b. Siswa pemikirannya konvensional (fikiran yang
berasaskan pendapat-pendapat lama yang telah kukuh dan diterima ramai sebelum
ini)
c. Guru kurang membantu siswa (apabila guru kurang
memahami teori belajar yang berbeda pada masing-masing siswa) menemukan
keinginan belajar, dan kurang mendukung siswa mencapai apa yang mereka inginkan
d. Keadaan lingkungan kurang kondusif (minimnya
fasilitas dan pengetahuan lingkungan masyarakat/orang tua tentang teori belajar
neuroscience)
e. Tenaga kependidikan di Indonesia belum sepenuhnya
mengetahui tentang teori ini karena
masih baru.
f. Memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk dapat
memahami (mempelajari) bagaimana otak kita bekerja.
g. Memerlukan biaya yang tidak sedikit dalam menciptakan
lingkungan pembelajaran yang baik bagi otak.
h. Memerlukan
fasilitas yang memadai dalam mendukung praktek pembelajarant teori ini.
SUMBER: