Pages

Kamis, 03 April 2014

TUGAS MATA KULIAH DASAR-DASAR PENDIDIKAN (SEMESTER 1)


A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat atau yang sering kita sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya yang terdapat di Indonesia merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya.
Tidak bisa kita pungkiri, bahwa kebudayaan daerah merupakan faktor utama berdirinya kebudayaan yang lebih global, yang biasa kita sebut dengan kebudayaan nasional. Maka atas dasar itulah segala bentuk kebudayaan daerah akan sangat berpengaruh terhadap budaya nasional, begitu pula sebaliknya kebudayaan nasional yang bersumber dari kebudayaan daerah, akan sangat berpengaruh pula terhadap kebudayaan daerah / kebudayaan lokal.
Kebudayaan merupakan suatu kekayaan yang sangat benilai karena selain merupakan ciri khas dari suatu daerah juga mejadi lambang dari kepribadian suatu bangsa atau daerah.
Karena kebudayaan merupakan kekayaan serta ciri khas suatu daerah, maka menjaga, memelihara dan melestarikan budaya merupakan kewajiban dari setiap individu, dengan kata lain kebudayaan merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan oleh setiap suku bangsa.

B. Maksud dan Tujuan
Karena menjaga, memelihara dan melestarikan kebudayaan merupakan kewajiban setiap individu, maka dalam realisasinya saya mencoba menyusun makalah yang berjudul Kebudayaan Jawa Tengah yang didalamnya mengulas tentang berbagai kebudayaan tradisional Jawa Tengah. Penyusunan makalah yang berjudul Budaya Jawa Tengah ini bertujuan agar pembaca mengetahui bahwa Jawa Tengah merupakan daerah yang kaya akan budaya serta menyadari bahwa menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah merupakan kewajiban dari setiap orang.

Setahuku memang tradisi keris di belakang itu sudah ada sejak lama sekali di Jawa (dan wilayah2 pengaruhnya. Mis. Bali) Bahkan itu katanya sudah dimulai sebelum era Majapahit. Ada yang berpendapat krn sebagai tanda bahwa ia datang dlm kondisi damai, bukan menantang, atau siap siaga untuk bertempur/kelahi. Ada juga yang berpandangan bahwa posisi di belakang memudahkan ia untuk berjalan jongkok menyembah raja. Katanya karena mereka sudah bisa menahan diri untuk tidak cepat menikam. Agamawan pun akan dianggap 'suka damai', sehingga tidak menimbulkan rasa curiga saat ia menaruh keris di depan. Krn membawa keris di belakang tentu lebih mudah hilang tercecer krn sarung/kain melorot, atau jatuh saat berlari/melompat dr buritan. Hal ini sebenarnya juga disadari oleh masyarakat Jawa, krn pr petualang pun umumnya membawa keris di depan atau pakai holster di samping. Krn kekalahan berturut2 etnik Jawa terhadap dominasi Belandalah yg mengekalkan tradisi membawa keris di belakang sebagai satu-satunya cara yg diingat masyarakat Jawa. Jadi posisi di belakang adalah semacam manner atau sopansantun bersosial di Jawa dan Bali dalam situasi damai. Tidak berkait dengan karakter masyarakat Jawa yg dimitoskan suka menikam dr belakang. Di Pulau Jawa pada umumnya keris dikenakan orang dengan cara menyelipkannya di antara stagen sejenis ikat pinggang, di pinggang bagian belakang. Yang paling umum, keris itu diselipkan  miring ke arah tangan kanan, namun pada situasi yang lain, lain pula posisi keris itu. Umpamanya, pada situasi perang, kalau yang mengenakan keris itu seorang ulama - keris akan diselipkan di bagian dada, miring ke arah tangan kanan. Tata cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Sementara itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan. Karena di artikan bahwa masyarakat dalam masa perang dan di anggap siap untuk berperang . di kawasa sumbar dianggap sbg musyawarah.
 Penutup: Tak beda dengan terbentuknya bangsa ini, yang terbangun dari berbagai suku, ras, agama, dan golongan. Kemudian disimbolkan dalam "bhinneka tunggal ika".
Oleh karena itu kita mesti menjaga, melestarikan, dan menghargai keris sebagai warisan budaya bangsa Melayu yang Kaya ini agar tidak punah dan diakui bangsa lainnya.


0 komentar:

Posting Komentar