Pages

Senin, 02 Juni 2014

TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN NEUROSCIENCE


TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN NEUROSCIENCE
OLEH: EVA HARYANI_1213032027 (GANJIL)



Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita memahami proses pembelajaran. Pada umumnya ada beberapa teori belajar dan pembelajaran yang sering digunakan, yaitu teori Teori Konstruktivis, Teori Neuroscience, Teori Multiple Intelligence, Teori Ki Hajar Dewantara , Teori kultural Vigotsky, Teori Piaget, Taksonomi Bloom, 5 Pilar Pendidikan. Namun, pada kesempatan kali ini, yang akan dibahas terlebih dahulu adalah Teori Neuroscience.
Proses pembelajaran sangat terkait dengan kerja otak kanan dan kiri. Dikutip dari sebuah blog, bahwa pada Oktober 2004, sekelompok ahli yang menekuni riset-riset otak berkumpul disebuah pegunungan, didharmasala India. Pesertanya bukan orang sembarangan, ahli otak kelas dunia berkumpul membicarakan lihwal tentang otak. Pertemuan tersebut membicarakan topik perihal neuroplastisitas, yaitu kemampuan sel-sel saraf mengubah diri. Ini adalah soal kapasitas otak untuk berubah, baik karena pengaruh sengaja dari luar maupun karena perubahan metabolisme dalam otak. Menurut Balai lama, yang kemudian disetujui oleh para periset yang meneliti soal itu, otak bukanlah elemen tubuh yang statis, yang sudah jadi sehingga tidak bias berubah. Persoalannya kemudian adalah apa yang dapat dilakukan untuk dapat mengubah mesin super canggih ini. Perubahan otak tidak mungkin terjadi tanpa intervensi serius, sistematis, dan terutama latihan-latihan mental. Potensi otak untuk berubah sangat tak terbatas, bahkan boleh dikatakan tidak terukur. Pada saat yang hampir bersamaan, di laboratorium Biomolekul Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta,   pernah dilakukan penelitian dalam bidang neuronatomi (Neurosains).

Pembelajaran berbasis kemampuan otak (neuroscience) adalah pembelajaran yang diselaraskan dengan cara otak yang didesain alamiah untuk belajar (apa saja yang baik bagi otak). Setelah kita mempelajari teori ini, diharapkan untuk dapat diterapkan dalam proses belajar dan pembelajaran.
Bagian-bagian Otak dan Fungsinya:
1. Cerebrum (Otak Besar)
Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga disebut dengan nama Cerebral Cortex, Forebrain atau Otak Depan. Cerebrum merupakan bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang. Cerebrum membuat manusia memiliki kemampuan berpikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan, memori dan kemampuan visual. Kecerdasan intelektual atau IQ Anda juga ditentukan oleh kualitas bagian ini. Cerebrum (otak besar) juga bisa dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Kedua belahan itu terhubung oleh kabel-kabel saraf di bagian bawahnya. Secara umum, belahan otak kanan mengontrol sisi kiri tubuh, dan belahan otak kiri mengontrol sisi kanan tubuh. Otak kanan terlibat dalam kreativitas dan kemampuan artistik. Sedangkan otak kiri untuk logika dan berpikir rasional.
2. Cerebellum (Otak Kecil)
Otak Kecil atau Cerebellum terletak di bagian belakang kepala, dekat dengan ujung leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak fungsi otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh, mengkontrol keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak Kecil juga menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat menulis, gerakan mengunci pintu dan sebagainya. Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke dalam mulutnya atau tidak mampu mengancingkan baju.
3. Brainstem (Batang Otak)
Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung atau sumsum tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia termasuk pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh, mengatur proses pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar manusia yaitu fight or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya.
4. Limbic System (Sistem Limbik)
Sistem limbik terletak di bagian tengah otak, membungkus batang otak ibarat kerah baju. Komponen limbik antara lain hipotalamus, thalamus, amigdala, hipocampus dan korteks limbik. Sistem limbik berfungsi menghasilkan perasaan, mengatur produksi hormon, memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar, dorongan seks, pusat rasa senang, metabolisme dan juga memori jangka panjang. Bagian terpenting dari Limbik Sistem adalah Hipotalamus yang salah satu fungsinya adalah bagian memutuskan mana yang perlu mendapat perhatian dan mana yang tidak. Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera. Dialah yang lazim disebut sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran. Carl Gustav Jung menyebutnya sebagai “Alam Bawah Sadar” atau ketidaksadaran kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik seperti menolong orang dan perilaku tulus lainnya.

Penggunaan Fungsi Otak dan Gaya Pemikiran yang distimulasikan:
Kiri   

Kanan
Logis
Konseptual
Analistis
Idialitas
Realitas
Visionari
Faktual 
Emosional
Prosedural
Humanistis
Praktis   
Intuitif
Organisatoris 
Spiritual
                                                  

Sebagai suatu teori pembelajaran berbasis kemampuan otak (Neuroscience), tentu saja memiliki kelebihan dan kelemahan.
Kelebihan Neuroscience:
a. Teori ini mendukung siswa mencapai apa yang diinginkan sesuai pada kemampuan kerja otaknya.
b. Guru sebagai penggubah keberhasilan siswa.
c. Memberikan suatu pemikiran baru tentang bagaimana otak manusia bekerja.
d. Memperhatikan kerja alamiah otak si pebelajar dalam proses pembelajaran.
e. Menciptakan iklim pembelajaran dimana pebelajar dihormati dan didukung.
f. Menghindari terjadinya pemforsiran terhadap kerja otak.

Kelemahan Neuroscience:
a. Sebagian besar pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada aspek kognitif atau intelektualnya saja dan yang berkembang hanya otak belahan kiri
b. Siswa pemikirannya konvensional (fikiran yang berasaskan pendapat-pendapat lama yang telah kukuh dan diterima ramai sebelum ini)
c. Guru kurang membantu siswa (apabila guru kurang memahami teori belajar yang berbeda pada masing-masing siswa) menemukan keinginan belajar, dan kurang mendukung siswa mencapai apa yang mereka inginkan
d. Keadaan lingkungan kurang kondusif (minimnya fasilitas dan pengetahuan lingkungan masyarakat/orang tua tentang teori belajar neuroscience)
e. Tenaga kependidikan di Indonesia belum sepenuhnya mengetahui tentang  teori ini karena masih baru.
f. Memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk dapat memahami (mempelajari) bagaimana otak kita bekerja.
g. Memerlukan biaya yang tidak sedikit dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang baik bagi otak.
h. Memerlukan fasilitas yang memadai dalam mendukung praktek pembelajarant teori ini.









SUMBER:

0 komentar:

Posting Komentar